Kamis, 13 November 2014

BAHASA PERSATUAN

Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan dan Bahasa Negara

Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat menentukan dalam perkembangan kehidupan bangsa Indonesia. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, bahasa Indonesia berhasil membangkitkan diri menggalang semangat kebangsaan dan semangat perjuangan dalam mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan” sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Kenyataan sejarah itu berarti bahwa bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan telah berfungsi secara efektif sebagai alat komunikasi antarsuku, antardaerah, dan bahkan antarbudaya.

Sebagai akibat dari ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia yang memiliki peran yang sangat menentukan sebagai alat komunikasi dalam peri kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam hubungan ini, bahasa Indonesia tidak hanya digunakan sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan kehidupan negara dan pemerintahan, tetapi juga sebagai bahasa pengantar pada jenis dan jenjang pendidikan, sebagai bahasa perhubungan nasional (terutama dalam kaitannya dengan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional), sebagai sarana pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara masih harus terus dimantapkan dan dikaji ulang. Pada dasarnya peran atau fungsi bahasa Indonesia dari waktu ke waktu boleh dikatakan tidak mengalami perubahan. Artinya, rincian peran bahasa Indonesia, sekurang-kurangnya yang telah disinggung tadi, boleh dikatakan berlaku sepanjang masa selama bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.


HARAPAN

Peningkatan Eksistensi Dalam Prestasi

            Kelas XI merupakan kedudukan yang bisa dikatakan paling krisis diantara kelas X dan XII . Banyak orang mengatakan nakal-nakalnya siswa SMA/SMK/MA sederajat yaitu pada saat menginjak kelas XI, akan tetapi itu bukanlah hal penyebab yang mendasari keadaan atau ruang lingkup siswa menjadi nakal. Namun menurut saya, predikat kelas XI adlah suatu tempat dimana saatnya saya lebih meningkatkan prestasi, setelah mengevaluasi kekurangan dan hal apa saja yang harus ditingkatkan dari kelas X. Banyak visi yang harus saya capai di kelas XI, dan saya kira memang butuh perencanaan yang baik agar pencapaian itu bisa didapatkan sesuai Visidan keinginan saya.
            Setelah mengevaluasi di kelas X mata pelajaran yang menurut saya sangat kurang dan minim yaitu Matematika dan Bahasa Inggris, yang sebenarnya dua mata pelajaran tersebut sangatlah penting dalam nilai akademi saya. Karakter saya adalah orang yang sangat cenderung otodidak dalam belajar, mengingat saya tidak pernah mempunyai inisiatif untuk mengikuti LBB atau bimbingan belajar lainnya. Namun saya mempunyai rencana dan keinginan untuk mengikuti LBB privat hanya untuk belajar dua mata pelajaran tersebut, yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Karena saya kurang mampu jika belajar secara individu.
            Selain peningkatan nilai akademi , khususnya hal yang harus saya tingkatkan lainnya yaitu prestasi kompetensi dalam bidang Multimedia. Saya merencanakan banyak hal untuk tetap berpestasi  di kelas XI. Setelah kemarin saya dan beberapa teman-teman sekelas berprestasi dalam menjuarai beberapa lomba film, namun di kelas XI ini saya yakin akan lebih banyak lagi prestasi kompetensi yang saya capai.
            Jika melihat kelas XI, hal yang selalu tidak terlupakan yaitu Prakerin ATAU Praktek Kerja Industri. Menghadapi hal tersebut saya mempunyai keinginan keras untuk meningkatkan keahlian kompetensi saya agar bisa mendapatkan tempat terbaik pada saat prakerin nanti. Karena menurut saya tempat yang cocok untuk saya prakerin yaitu tempat dimana saya bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman lebih banyak lagi. Maka dari itu pencapaian berikutnya di kelas XI yaitu tempat terbaik pada saat prakerin.
            Lalu hal yang harus saya capai berikutnya yaitu mengelola keuangan pribadi dengan baik sehingga bisa membuka tabungan dan ATM dari uang sendiri. Selain uang saku dari orangtua , saya mendapatkan uang dari kegiatan saya mengajar ekstra multimedia di sekolah MTs saya dulu. Dengan upah pasti setiap bulan tersebut. Saya bisa membantu meringankan beban orang tua untuk membayar uang SPP sekolah memakai uang pribadi.

            Setelah banyak perencanaan dan harapan yang harus saya capai, tinggal semua itu saya realisasikan dalam prestasi, agar saya semakin eksis dalam prestasi di kelas ini. Karena semua perencanaan tersebut tidaklah bisa terlaksanakan dengan baik tanpa saya dasari dengan niat dan keyakinan yang kuat dan tentunya berdo’a kepada Allah SWT. Peningkatan eksistensi dalm prestasi adalah visi dan harapan saya di kelas XI.

IQ VS EQ

Penting Manakah IQ dengan EQ ?
( IQ VS EQ )


                Benar, era ini telah banyak merubah pola hidup dan pola pikir manusia dijaman sekarang. Banyak orang cerdas,pintar, dan mungkin telah banyak yang mereka ciptakan untuk berkontribusi dan berperan penting dalam kehidupan ini. Namun masa depan mereka para orang-orang sukses, bukan hanya “intelegent” atau kecerdasan mereka dalam berpikir, akan tetapi emosional yang juga berperan penting dalam mengendalikan diri dan segala aspek kehidupan ini.
                Level atau tingkatan IQ dan EQ kita berbeda . IQ dan EQ sebetulnya sama pentingnya untuk menunjang keberhasilan sesorang. Tetapi EQ lebih berperan dalam keberhasilan seseorang. Banyak yang mengatakan peran IQ  dalam keberhasilan seseorang itu hanya 20 %, selebihnya yaitu 80 % adalah peran emosi kita atau EQ.
                Meskipun IQ  tinggi , yaitu cerdas,pandai, bereaksi cepat dan teliti. Tetapi jika dia tidak bisa mengendalikan emosi maka dalam perjalanan kariernya dia tersandung banyak masalah dan tidak disukai oleh sekitarnya. Sebaliknya jika meskipun dia tidak terlalu pandai , tetapi mempunyai pribadi yang baik, orang pasti akan menghargai dan dihormati oleh lingkungan sekitar. Atasan bawahan, teman, keluarga akan sering berikan kepercayaan pada orang yang pribadinya lebih baik.
                Andaikan ada dua orang yang sama pintarnya, tetapi yang salah satu orang ini memiliki EQ lebih maka yang berhasil pasti orang yang mempunyai EQ tinggi tersebut. Benar , EQ sepertinya kalah populernya dengan IQ yang lebih akrab ditelinga. Pemikiran orang-orang dalam hal EQ sudah jarang diikutsertakan dalam hidup. Maka tidak jarang kriminalitas sekarang begitu berintelektual, layaknya koruptor, mafia, dan penyadapan  yang para pelakunya adalah orang-orang cerdas.tapi mereka tidak sedikitpun memikirkan Eqnya.
                EQ juga mulai punah dalam diri penerus masa depan bangsa ini yaitu para pelajar dan pemuda. Mereka muntut ilmu hnyalah IQ yang dicapainya , namun tidak pernah menghiraukan Eqnya. Sebenarnya EQ telah bisa diajarkan pada usia dini. Menjaga dan menghargai hati seseorang, hal tersebut bisa dilakukan untuk melatih emosional anak.

                Banyak aspek dalam EQ yang bisa kita dapat seperti pengendalian diri, motivasi diri, mampu berkomunikasi, dan peka dengan orang lain, kita mampu melihat bahwa setiap orang berbeda dan suatu perbedaan itu wajar. Jadi EQ sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial, dan juga peningkatan karier seseorang. Tugas dan kepercayaan akan diberikan pada orang yang bisa dipercaya, dan mampu  memanfaatkan potensinya dengan baik dan bisa diterima disetiap lingkungan.

MENGHARGAI ITU PENTING !!!

Memanusiakan Manusia

                Hak manusia adlah sebuah pokok utama yang harus dijamin oleh setiap bangsanya. Maka dari itu kata Hak Asasi Manusia selalu ada di lingkup Nasional, Regional maupun Internasional. Banyak aspek yang dijamin dalam Hak Asasi Manusia, salah satunya menhargai orang lain karena itu adalah hal terkecil dalam menumbuhkan jiwa “ Memanusiakan Manusia “. Batasan dalam hidup selalu ada, maka dari itu setiap orang tidak boleh sesukanya berbuat sesuatu, karena ada hukum yang mengikatnya.
                Kalimat “Memanusiakan Manusia” adalah sebuah kalimat yang sering terlontarkan dalam kehidupan sehari-hari, saat ada seseorang merasa tidak dihargai. Terkadang hal terkecil dalam menghargai seseorang tidak pernah terpikirkan setiap saat. Bergaul , berkomunikasi dalam keseharian , kita selalu bertemu seseorang yang juga harus kita hargai walaupun sepenggal kata mereka. Karena kita makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa campur tangan orang lain dan mempunyai hati yang bisa merasakan sikon dan keadaan saat itu. Dalam pemahaman saya “ Memanusiakan Manusia “ adalah bagaimana kita menjadikan atau memposisikan orang tersebut seperti hak yang telah dimilikinya.
                Menghargai dan menghormati orang saat ini adalah hal yang selalu perlu diperhitungkan. Tidak ada kata positif dalam penilaian kita untuk menghargai setiap orang, tidak hanya orang tersebut buruk dalam hal kehidupan. Kata menghargi semaikn rapuh dalam diri seseorang seiring perkembangan jaman. Sekali lagi eralah yang merubah setiap unsur dan jiwa manusia dalam kehidupan ini.
                Dalam konteks sebelum merdeka kita masih wajar mendengar kata “Memanusiakan Manusia” jarang kita temui. Karena fakta bagaimana perjalanan negara Indonesia dijajah telah timbul banyak kekejaman didalmnya. Namun jika kita sekarang berbicara tentang penjajahan, bukanlah bangsa lain yang menjajah kita, akan tetapi diri kita sendiri yang menjajah kita dan saudara kita di tanah air. Maka tidak jarang bentrok antar warga sering terjadi di Indonesia, melihat rasa saling toleran, menghormati dan menghargai tidak ada lagi dalam diri manusia.
                Bebicara soal “ Memanusiakan Manusia” adalah hal paling banyak mendapatkan sebuah predikat buruk. Banyak lembaga yang berkewajiban menangani dan melindungi masalah ini. Namun orang atau aparat yang ada didalamnya  juga melanggar. Maka dari itu jiwa menghargai harus ditanamkan sejak dini. Hal itu  bisa ditanamlan dalam lingkungan sekolah.

                Kembali lagi sekolah adalah hal terpenting dalam membentuk karakter seseorang. Dimana segala hal telah kita dapatkan secara formal di sekolah, disamping orangtua yang juga mendidik kita. Korelasi dalam “Ngilmu” dan “Memanusiakan Manusia “ harus ada dalam jiwa seorang pelajar. Karena jika kita “Ngilmu” dalam sekolah secara tidak langsung kita telah “Memanusiakan Manusia” dilingkungan sekolah, karena dalam hal ini kita telah mengahargai guru yang telah berniat dan bertekad mendidik kita dan siswa atau teman partner kita belajar disekolah.

ARTIKEL PELAJAR BERKEMAJUAN

Ngilmu

                Kata pelajar mungkin tidak asing lagi dengan sebuah konteks belajar, mencari ilmu atau menuntu ilmu. Namun hal ini sekarang seakan tidak dihiraukan lagi oleh seorang pelajar. Inisiatif untuk mencari ilmu adalah sebuah hal yang jarang lagi ditemui oleh mayoritas pelajar sekarang, terutama di negara kita tercinta ini. Nilai adalah hal terpenting pelajar untuk belajar ke sekolah. Hakikat sekolah seakan sudah tidak ada lagi dalam konteks sistem belajar sekarang.
                Ekspetasi  pelajar sekarang dalam bersekolah adalah nilai, bukan sebuah ilmu yang didapatkan. Hal ini mungkin yang dijadikan seorang pelajar saat ini dalam tujuan bersekolah. Sekali lagi hanya nilai dan nilai yang dicari. Pemahaman dalam menuntut ilmu dalam bersekolah bukan lagi manfaat ilmu yang kita dapatkan. Tujuan bersekolah yaitu dapat nilai dan bukan ilmu yang didapatkan, ini prinsip utama para pelajar sekarang.
                Ngilmu, kosakata bahasa indonesia yang dijadikan kata masyarakat untuk pengertian bagaimana mencari ilmu yang sebenar-benarnya. Jelas harfiah ini adalah sebuah ilmu yang diutamakan dan yang harus didapatkan. Yang sejatinya kata “ Ngilmu” adalah prinsip utama para pelajar, bukan “Golek Nilai” begitu masyarakat jawa menyebutkan. Jiwa ngilmu era pelajar sekarang telah bertransformasi.
                Perubahan moral, akhlak dan intelektualitas yang sudah terkikis oleh jaman adalah salah satu penyebab terjadinya kata “Ngilmu” telah hilang. Banyak seorang pelajar yang bukan lagi pelajar, kita lihat banyaknya pelajar yang berprestasi dan juga pelajar yang menjadi unsur negativ di lingkungan pelajar, dan masyarakat. Dua aspek pelajar dalam konteks  atau dalam lingkup belajar disekolah hanyalah niat dan tidak niat, tergantung bagaimana setiap diri pribadi seorang pelajar menyikapi pemaknaan “ Ngilmu “ yang sebenarnya.
                Banyak cara dan strategi, banyak pihak yang berkontribusi dalam pengelolahan sistem pendidikan di bangsa ini. Tidak sedikit yang menjadi pihak skeptis dan apatis dalam sistem pembelajaran di tanah air, karena memang banyak kekurangan dalam sistem belajar mengajar dan pendidikan di Indonesia. Kurangnya pemerataan adalah salah satu masalah utama pemerintah dalam sistem bidang pendidikan. Dari bagian barat sampai timur Indonesia tidak cukup dikatakan mereka semua mendapatkan pendidikan yang layak.

                Inilah salah satu penyebab dimana orang ingin “Ngilmu” tidak ada fasilitasnya. Dan yang punya fasilitas dan infrastruktur yang cukup baik tidak mempunyai keinginan dalam “Ngilmu” dalam era yang kejam ini, agar kita tidak semakin diperbodoh bangsa lain. Lihatlah seorang pelajar yang mempunyai keinginan “Ngilmu “ mereka jarang difasilitasi oleh bangsa ini, maka tidak salah jika orang-orang cerdas tersebut mengabdi dan hidup di bangsa orang lain.