Ngilmu
Kata
pelajar mungkin tidak asing lagi dengan sebuah konteks belajar, mencari ilmu
atau menuntu ilmu. Namun hal ini sekarang seakan tidak dihiraukan lagi oleh
seorang pelajar. Inisiatif untuk mencari ilmu adalah sebuah hal yang jarang
lagi ditemui oleh mayoritas pelajar sekarang, terutama di negara kita tercinta
ini. Nilai adalah hal terpenting pelajar untuk belajar ke sekolah. Hakikat
sekolah seakan sudah tidak ada lagi dalam konteks sistem belajar sekarang.
Ekspetasi
pelajar sekarang dalam bersekolah adalah
nilai, bukan sebuah ilmu yang didapatkan. Hal ini mungkin yang dijadikan
seorang pelajar saat ini dalam tujuan bersekolah. Sekali lagi hanya nilai dan
nilai yang dicari. Pemahaman dalam menuntut ilmu dalam bersekolah bukan lagi
manfaat ilmu yang kita dapatkan. Tujuan bersekolah yaitu dapat nilai dan bukan
ilmu yang didapatkan, ini prinsip utama para pelajar sekarang.
Ngilmu,
kosakata bahasa indonesia yang dijadikan kata masyarakat untuk pengertian
bagaimana mencari ilmu yang sebenar-benarnya. Jelas harfiah ini adalah sebuah
ilmu yang diutamakan dan yang harus didapatkan. Yang sejatinya kata “ Ngilmu”
adalah prinsip utama para pelajar, bukan “Golek Nilai” begitu masyarakat jawa
menyebutkan. Jiwa ngilmu era pelajar sekarang telah bertransformasi.
Perubahan
moral, akhlak dan intelektualitas yang sudah terkikis oleh jaman adalah salah
satu penyebab terjadinya kata “Ngilmu” telah hilang. Banyak seorang pelajar
yang bukan lagi pelajar, kita lihat banyaknya pelajar yang berprestasi dan juga
pelajar yang menjadi unsur negativ di lingkungan pelajar, dan masyarakat. Dua
aspek pelajar dalam konteks atau dalam
lingkup belajar disekolah hanyalah niat dan tidak niat, tergantung bagaimana
setiap diri pribadi seorang pelajar menyikapi pemaknaan “ Ngilmu “ yang
sebenarnya.
Banyak
cara dan strategi, banyak pihak yang berkontribusi dalam pengelolahan sistem
pendidikan di bangsa ini. Tidak sedikit yang menjadi pihak skeptis dan apatis
dalam sistem pembelajaran di tanah air, karena memang banyak kekurangan dalam
sistem belajar mengajar dan pendidikan di Indonesia. Kurangnya pemerataan
adalah salah satu masalah utama pemerintah dalam sistem bidang pendidikan. Dari
bagian barat sampai timur Indonesia tidak cukup dikatakan mereka semua
mendapatkan pendidikan yang layak.
Inilah
salah satu penyebab dimana orang ingin “Ngilmu” tidak ada fasilitasnya. Dan
yang punya fasilitas dan infrastruktur yang cukup baik tidak mempunyai
keinginan dalam “Ngilmu” dalam era yang kejam ini, agar kita tidak semakin
diperbodoh bangsa lain. Lihatlah seorang pelajar yang mempunyai keinginan “Ngilmu
“ mereka jarang difasilitasi oleh bangsa ini, maka tidak salah jika orang-orang
cerdas tersebut mengabdi dan hidup di bangsa orang lain.




0 komentar:
Posting Komentar