Kamis, 13 November 2014

ARTIKEL PELAJAR BERKEMAJUAN

Ngilmu

                Kata pelajar mungkin tidak asing lagi dengan sebuah konteks belajar, mencari ilmu atau menuntu ilmu. Namun hal ini sekarang seakan tidak dihiraukan lagi oleh seorang pelajar. Inisiatif untuk mencari ilmu adalah sebuah hal yang jarang lagi ditemui oleh mayoritas pelajar sekarang, terutama di negara kita tercinta ini. Nilai adalah hal terpenting pelajar untuk belajar ke sekolah. Hakikat sekolah seakan sudah tidak ada lagi dalam konteks sistem belajar sekarang.
                Ekspetasi  pelajar sekarang dalam bersekolah adalah nilai, bukan sebuah ilmu yang didapatkan. Hal ini mungkin yang dijadikan seorang pelajar saat ini dalam tujuan bersekolah. Sekali lagi hanya nilai dan nilai yang dicari. Pemahaman dalam menuntut ilmu dalam bersekolah bukan lagi manfaat ilmu yang kita dapatkan. Tujuan bersekolah yaitu dapat nilai dan bukan ilmu yang didapatkan, ini prinsip utama para pelajar sekarang.
                Ngilmu, kosakata bahasa indonesia yang dijadikan kata masyarakat untuk pengertian bagaimana mencari ilmu yang sebenar-benarnya. Jelas harfiah ini adalah sebuah ilmu yang diutamakan dan yang harus didapatkan. Yang sejatinya kata “ Ngilmu” adalah prinsip utama para pelajar, bukan “Golek Nilai” begitu masyarakat jawa menyebutkan. Jiwa ngilmu era pelajar sekarang telah bertransformasi.
                Perubahan moral, akhlak dan intelektualitas yang sudah terkikis oleh jaman adalah salah satu penyebab terjadinya kata “Ngilmu” telah hilang. Banyak seorang pelajar yang bukan lagi pelajar, kita lihat banyaknya pelajar yang berprestasi dan juga pelajar yang menjadi unsur negativ di lingkungan pelajar, dan masyarakat. Dua aspek pelajar dalam konteks  atau dalam lingkup belajar disekolah hanyalah niat dan tidak niat, tergantung bagaimana setiap diri pribadi seorang pelajar menyikapi pemaknaan “ Ngilmu “ yang sebenarnya.
                Banyak cara dan strategi, banyak pihak yang berkontribusi dalam pengelolahan sistem pendidikan di bangsa ini. Tidak sedikit yang menjadi pihak skeptis dan apatis dalam sistem pembelajaran di tanah air, karena memang banyak kekurangan dalam sistem belajar mengajar dan pendidikan di Indonesia. Kurangnya pemerataan adalah salah satu masalah utama pemerintah dalam sistem bidang pendidikan. Dari bagian barat sampai timur Indonesia tidak cukup dikatakan mereka semua mendapatkan pendidikan yang layak.

                Inilah salah satu penyebab dimana orang ingin “Ngilmu” tidak ada fasilitasnya. Dan yang punya fasilitas dan infrastruktur yang cukup baik tidak mempunyai keinginan dalam “Ngilmu” dalam era yang kejam ini, agar kita tidak semakin diperbodoh bangsa lain. Lihatlah seorang pelajar yang mempunyai keinginan “Ngilmu “ mereka jarang difasilitasi oleh bangsa ini, maka tidak salah jika orang-orang cerdas tersebut mengabdi dan hidup di bangsa orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar